Konflik dan Jatidiri yang Terlupakan

SR Yadien. FOTO: www.bontomaranu.or.id
Mengawali tulisan ini penulis ingin mengutip nasehat seorang kakek kepada penulis beberapa tahun silam. “Anae, ndaike dou sabua. Dou ma hi,i sanggi,i peke satako. Dou ma ra sabua mai kaina (Anakku, orang yang satu daging satu tulang. Orang yang satu asal usulnua)”, ujarnya waktu itu ketika kami sama-sama sedang menikmati timun di kebunnya.

Bima adalah daerah yang secara administrasi terdiri dari dua daerah pemerintahan, yaitu Bima Kota dan Bima Kabupaten. Pada awalnya dua wilayah pemerintah ini hanya satu sejak berdirinya pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir (La Kai) dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan Pemerintahan berdasarkan Syariat Islam, namun berdasarkan undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2002 Kota Bima dibentuk dan mekar dari kabupaten Bima.

Pada dasarnya mereka memiliki ciri dan sifat yang sama, meskipun semakin maju dan berkembangnya jaman masyarakatnya mulai beda dari segi pergaulan dan cara berpikir. Namun mereka tetrap satu sebagai Dou Mbojo.

Bicara tentang konflik yang akhir-akhir ini sering terjadi di Bima, sebenarnya bukan hal yang baru. Itu sudah lama terjadi. Konflik di Bima semakin ke sini seolah menjadi trend baru di kalangan generasi dan masyarakat. Nggak konflik ngak asyi, ngak bacok nggak jentel. Namun sebenarnya itu tidak hanya terjadi di Bima, di daerah-daerah lain pun terjadi konflik sama halnya seperti Bima, namun ada yang berbeda dari Bima dan daerah lain yaitu dari segi gayanya dalam berkonflik.

Masyarakat atau orang Bima memang keras dan gemar beradu fisik, itu sudah terjadi sejak kakek dan buyut orang bima dulu dan terlihat dari beberapa budaya bima yang tergolong keras, sebut saja budaya ndempa, taji tuta, gantao, buja kadanda, penca, tuba compo tembe dan banyak lagi kesenian budaya yang menggambarkan bahwa masyarakat Bima adalah orang-orang yang kuat dan tangguh. Kesenian-kesenian tersebut sampai sekarang masih ada dan akan dilakukan di acara-acara tertentu seperti acara pernikahan, sunatan dan lain sebagainya.

Namun pada jaman dulu tidak terjadi konflik sesering sekarang. Dari beberapa orang tua yang coba dekati dan wawancarai mereka mengungkapkan “pada jaman dulu jika terjadi konflik maka kami akan akan bertarung layaknya kesatria, satu lawan satu, sampai mati buat surat perjanjian pada galarang (sekarang: kepala desa) lalu disaksikan banyak orang dan kami bertarung sampai mati. Itu jika masalahnya besar, artinya sepantaran dengan harga nyawa. Namun jika masalahnya tidak terlalu besar kami lebih mengedepankan mafaka ro dampa, mbolo ro pado (Mufakat dan musyawarah)”.

Dari penjelasanya jika pun masalahnya sangat besar maka orang terdahulu akan bertarung secara kesatria, satu lawan satu, tidak melibatkan orang sekampung seperti konflik sekarang ini karena hampir semua konflik antara kampung di Bima itu bermula dari konflik pribadi antara individu dari kampung A dengan individu di kampong B yang kemudian melibatkan hampir semua orang kampung dan membawa nama kampung. Namun jika masalahnya hanya masalah kecil mereka cenderung mengedepankan mufakat musyawarah.

Kembali ke Bima yang sekarang. Konflik antara kampung yang terjadi hampir rata-rata bermula dari masalah yang kecil namun membias dan menjadi besar seperti raksasa masalah yang kemudian mengharuskan terjadinya konflik antar kampung. Bicara tentang solidaritas kelompok masyarakat Bima memang terkenal sangat solid itu tercermin lewat salah satu falsafah hidupnya yang dianut sabua mangga sadompo, sadompo mangga satobe, sabobe mangga sa liki, (Satu sama berbagi, berbagi sama sisi, sama sisi sama dirasa) atau kita bias lihat bagaimana bersatunya orang Bima jika berada di luar daerah, di Jakarta, Mataram, Surabawa, Makassar dan lain sebagainya, yang penting orang Bima, entah dia dari kecamatan yang berbeda atau desa yang berbeda tetap akan dianggap sebagai saudara sendiri.

Namun ada yang salah dengan solidaritas kita sekarang. Kita lebih solid dalam melakukan konflik dan beberapa hal “buruk” daripada hal ”baik”, sekarang sudah sulit kita menemukan diri kita yang solid dalam kegiatan sosial, kerja bakti, gotong royong dan sebagainya, sudah sangat jarang.

Dari rangkain jumlah konflik di Bima sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi penyebab utamanya. Di antaranya:

Kita mungkin mulai jauh dari Tuhan.
Penulis tidak menfonis langsung, tapi penulis masih menggunakan kata “mungkin”, namun sejauh ini kita sudah tidak lagi melihat masjid-masjid yang ramai kecuali hari jumat atau sholat taraweh dan idul fitri maupun idul adha, kita juga sudah sulit menemukan anak-anak yang jika magrib berhenti bermain dan bergegas pergi ngaji, atau remaja yang tadarusan di masjid, langgar atau mushola, sudah sangat sulit kita dapati. Sehingga jiwa kita mulai kering, gersang dan menjadi panas akibatnya mudah merasa tersinggung, marah, saling bacok dan melakukan hal-hal buruk lainya.

Cara berpikir kita yang mulai bergeser tentang kehidupan dan kemanusiaan
Kemajuan jaman dan trend seolah telah meracuni cara berpikir kita sebagai masyarakat Bima. Kita sudah tidak lagi peduli tentang kemanusiaan, rasa kasihan dan iba terhadap sesama yang mulai terkikis. Kita tidak lagi merasa kasihan ketika melihat orang dihajar ramai-ramai, tak lagi iba ketika melihat orang lain dibacok dan ditusuk bahkan dibunuh meskipun itu hanya karena persoalan sepele. Kita lebih mudah melayangkan tangan dan senjata dari pada kata (musyawarah).

Kita mulai lupa tentang jati diri kita dan budaya kita sebagai dou mbojo (Orang Bima)
Selain sebagai mahluk Tuhan yang diberi tugas menjadi khalifah, kita adalah Dou Mbojo (Orang Bima) yang punya akar, punya budaya dan adat serda abab. Kita mulai lupa bahwa kita adalah dou ma hi,i sanggi,i peke satako, kita mulai lupa bahwa kita adalah londo dou ma taho (Keturunan warga baik-baik), kita lupa bahwa kita adalah dou ma maja labo dahu (orang yang malu dan takut), namun kita lebih cenderung ka anca weki ro ka ingge weki, ka ngence weki, ka dou weki (Sombong dan angkuh, angkuh dan besar diri). Para terpelajar yang tidak peduli untuk menjadi bagian dari solusi bahkan banyak yang memilih menjadi bagian dari masalah. Terpelajar baik yang sarjana maupun yang lainnya sudah sangat banyak di Bima, tapi tidak banyak yang memilih untuk menjadi bagian dari solusi.

Kita lebih memilih diam dan asyik dengan dunia kita sendiri. 
Ketika terjadi konflik misalnya kita lebih sering menyalahkan bupati, polisi, tentara dan lain sebagainya daripada ikut terlibat membantu mendinginkan suasana dan menjadi bagian dari kelompok yang melerai konflik. Bahkan tidak jarang kita sebagai terpelajar berada pada garda konflik. Dan ini mungkin terjadi juga karena kurangnya lapangan pekerjaan.

Empat point di atas menurut penulis menjadi indicator terjadinya konflik di Bima di antara mungkin banyak hal lain yang menjadi penyebabnya. Namun sekalipun demikian kita tidak semestinya menjadi pesimis terhadap daerah kita. Kita mestinya tetap berusaha untuk mencari solusi dari persoalan di daerah tercinta kita.

Menurut penulis, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi konflik di Bima. Di antaranya seperti yang sudah menjadi indikator di atas maka ada empat hal penting yang mesti dilakukan.

Kita mulai dari diri sendiri untuk kembali mendekatkan diri pada Tuhan, lalu mengajak saudara, keluarga, teman dan sahabat kita untuk kembali mendekatkan diri pada Tuhan dan berharap kesejukan hati dan kedamaian. Selain itu pemerintah harus mencanangkan program yang mendukung itu, misalnya program agama yang dapat melibatkan pemuda-pemuda di setiap desa, juga program magrib mengaji untuk mendidik generasi dengan quran. Lalu terpelajar mulai mengambil peran dalam mengurangi konflik di Bima, kita berhenti saling menyalahkan dan beretorika saja, mulailah mengambil tindakan nyata untuk daerah tercinta kita, entah membuat kegiatan kegiatan kepemudaan yang positif untuk mengalihkan kebiasan buruk pemuda untuk melakukan hal-hal buruk, atau upaya-upa lain yang juga bisa menjadi solusinya.

Kemudian budaya. Ini menurut penulis penting. Agar kiranya kita mulai mengembalikan budaya-budaya dan kearifan local kita yang mulai terkikis. Budaya mafaka ro dampa, mbolo ro pado. Kita mulai kembali pada nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua kita bahwa kita adalah dou ma hi,i sanggi,i peke satako, dou ma tupa ro husu, ma londo dou ma taho, manggahi rawi pahu, ma maja labo dahu, ma timba ra lemba, ma dodo ninu tambari kontu, dan banyak lagi nilai falsafah hidup kita yang telah di tanamkan.

Selain itu agar kira budaya dan kesenian bima tadi juga perlu dihidupkan kembali seperti Gantao, Buja Kadanda dan lain sebagainya. Ini diharapkan menjadi ruang untuk penyaluran kekuatan atau kegemaran kita untuk menunjukan keperkasaan.

Namun dalam hal tradisi dan kesenian ada nilai lain yang dijunjung tinggi yaitu kesenian tetap kesenian yang tidak bisa menjadi ajang saling membunuh, juga tetap menjunjung tinggi silaturahmi dan persaudaraan. Selain itu semua komponen harus bekerja keras, mengambil andil dalam mengurangi konflik Bima, mulai dari pemerintah daerah, keamanan, ulama, guru, dan lain sebagainya.

Demikian beberapa hal yang menurut penulis perlu dilakukan sebagai upaya mengurangi konflik di Bima. Semoga kedepan Bima akan lebih baik dan konflik-konflik berkurang. Berhenti saling menyalahkan, mulai mengambil sikap dan bertindak.


Penulis adalah anggota Komunitas Seni Bontomaranu, Bima - NTB

Related

Opini 3398586743140203598

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

SPONSOR

join

FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO

Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item