Masjid Terapung Amahami Boleh, Asalkan.....


Oleh : Abdul Basel Badruzzaman

"Apakah saat saya salah, lantas Anda benar?"
Abdul Basel Badruzzaman/FOTO: Facebook
OPINI - Sengaja saya mengutip sebuah kalimat yang mungkin sudah sering kita dengar, sebab akhir-akhir ini pembahasan mengenai pro-kontra rencana pembangunan Masjid Terapung Amahami sudah menjurus pada saling klaim benar-salah. Izinkan saya ikut 'meramaikan' jagat dunia maya lewat tulisan ini. Semoga tidak terkesan memperkeruh keadaan. Kapasitas saya sebagai pemilik background urban planner.

Tidak pernah ada kata salah dalam pembangunan jika itu diniatkan sebagai tonggak kemajuan daerah. Hanya saja pembangunan fisik dalam lingkup yang kecil seperti masjid terapung ini perlu ditimbang dari sisi kekuatan-kelemahan dan kesempatan-ancaman. Analisis paling simpel adalah SWOT. Belum lagi AMDAL, RKL dan RPL-nya. Seluruh analisis tersebut ditujukan agar ke depannya pembangunan masjid terapung dapat berkelanjutan secara ekonomi, sosial serta lingkungan. Saya anggap jika rencana pembangunan sudah "ketuk palu" berarti pemerintah sudah melewati berbagai analisis yang detail. Saya coba ber-khusnuzon pada pelaksana proyek. Jika belum, saya angkat tangan. Hehe.

Sekarang arahkan pikiran kita kepada berbagai argumentasi sosial yang mencuat dalam benak masyarakat. Pertama, terkait anggaran yang "super mewah" di dalam usulan awal Rp20 miliar hingga menjadi Rp12,5 miliar. Kedua, penyebutan istilah atau nomenklatur dalam rencana pembangunan Masjid Terapung sebagai Rumah Adat. Ketiga, terkait lokasi pembangunan masjid (rumah adat) di tengah banyak masjid dan musholla lain di sekitarnya. Keempat, isu kerusakan lingkungan dalam pembangunan masjid terapung.

ANGGARAN MEWAH
Anggaran tidak bisa dipungkiri sebagai sesuatu yang paling sensitif untuk dibahas. Uang bisa merubah segalanya; tanah disulap bangunan, bangunan disulap rata dengan tanah, image buruk dipoles jadi bersinar, image bersinar seketika buyar jadi buruk, dan uang bisa dengan seketika merubah orang baik menjadi tidak baik. Anggaran mewah untuk pembangunan masjid terapung atau rumah adat atau apa pun namanya, bisa sangat saya setujui jika ada nota kesepakatan bahwa kelak masjid ini tidak akan ditelantarkan.

Masjid ini harus digunakan benar-benar untuk beribadah, jangan sampai diperlakukan sebagai rumah adat. Semua kita tentu paham bagaimana nasib dari sekian banyak rumah adat di Bima sampai detik ini. Masjid terapung kelak harus menjadi tempat kegiatan sosial seperti pembagian makanan gratis bagi para gelandangan yang datang ke sekitar situ. Masjid terapung kelak harus menjadi sponsor kegiatan keagamaan yang ingin mengambil lokasi di sekitarnya. Jika itu disepakati, maka dana puluhan Milyar akan di-manage bukan hanya untuk membangun, tapi untuk tabungan kegiatan masjid kelak.

NOMENKLATUR UNIK
Foto: Internet
Penyebutan nama atau istilah menentukan 'jenis kelamin' objek yang kita namai. Jika seekor keledai dipaksa untuk menjadi kambing, maka akan banyak sekali ketidakberesan dalam prosesnya nanti. Istilah Rumah Adat di lingkup daerah kita seakan sudah tidak memiliki kharisma. Sejarah Rumah Adat terus tergerus oleh bangunan modern. Bayangan saya tentang Rumah Adat selalu membawa pikiran saya kepada Museum ASI Mbojo, Museum Samparaja, ASI Kalende, Uma Lengge, dan masih banyak yang lain. Apa yang terjadi pada mereka sekarang? Apakah elok jikalau membangun 'Rumah Adat' baru di tengah rumah adat lain yang kian reyot dan ringkih?

BEDA BANGUNAN SAMA FUNGSI
Foto: Internet
Masjid dan musholla adalah dua tempat yang harusnya suci sebagai tempat beribadah bagi umat Islam. Mari saya permudah bahasanya. Jika Masjid dan Musholla sama untuk tempat beribadah, kenapa harus ditumpuk dalam satu kampung? Bukan satu kelurahan loh, satu kampung, yaitu Dara saja. Hitung berapa masjid dan musholla yang ada di lingkungan Dara. Jika esensinya untuk bangunan monumental sekaligus menjadi ikon untuk Kota Bima, kenapa harus masjid? Landmark (ikon) dominan kita sudah ada di tengah Kota, yaitu Lapangan Serasuba dan Paruga Na'e.

Jika ada yang bilang teruskan saja pembangunan masjid karena jika menolak bangun masjid itu Kafir, maka katakan padanya justru Tuhan sangat membenci orang yang mubajir dan berlebihan. Jika ada yang bilang, teruskan saja pembangunan masjid karena hal yang sama terjadi pada Istiqlal tapi kini malah menjadi kebanggaan, maka katakan padanya bahwa Istiqlal memang dibangun sebagai satu-satunya yang berhierarki Masjid Negara. Masa masjid negara sepi dan tidak digunakan?? Kan tidak mungkin. Sebaliknya kita warga Bima punya Masjid Besar Al-Muwahidin.

Apa yang kita lakukan, dan apa yang terjadi padanya hingga kini? Jika ada yang bilang, teruskan saja pembangunan masjid terapung, karena penolakan wajar seperti yang terjadi saat pembangunan islamic centre Lombok, maka katakan padanya : "Kalau begitu kita juga lanjutkan rencana pembangunan Islamic Centre saja, gak usah bangun masjid terapung"

FISIK TANPA LINGKUNGAN
Foto: Internet
Sebelum Masjid Terapung dibangun, kita coba jalan-jalan terlebih dahulu ke Amahami, menyusuri daerah sepanjang bibir pantai hingga ke Lawata. Apa yang kita saksikan? Makin elok bukan? Adanya jalan dua arah ditambah gemerlap cahaya lampu jalan di malam hari membuat kita bangga. Kita tidak bergidik sama sekali dengan pohon bakau yang sudah hilang. Kita tidak ngeri sedikit pun dengan pembangunan jalan tanpa menanam kembali. Kita tidak risih dengan kondisi pasar yang terlihat kumuh, dan setiap tamu dari luar kota langsung bisa melihatnya dari jalan raya tanpa ada penghalang berupa pagar tinggi (apakah Masjid Terapung adalah salah satu penghalang agar Pasar kumuh bisa tertutupi?).

Kita biasa saja terhadap hilangnya lahan tambak berhektar-hektar oleh pembangunan rumah. Kita menilai wajar dengan volume dan debit air sungai yang lebih mudah meluap ketimbang sepuluh tahun terakhir. Kenapa dana besar tidak juga digelontorkan untuk membuat sungai-sungai kita kokoh dan ramah terhadap banjir? Kenapa dana besar tidak juga digelontorkan untuk menormalisasi setiap drainase kota, membuat gorong-gorong anti banjir?

Foto: Internet
Kenapa dana besar tidak digelontorkan untuk membayar tanah-tanah gunung di atas sana dari para oknum petani yang sering menebang tanpa mikir panjang? Kenapa kita lebih bahagia untuk memperindah dari pada mencegah? Water Front City atau Kota Tepian Air tidak semudah memperindah bibir pantai. Amanat Water Front City adalah kepedulian terhadap lingkungan, orientasi bangunan tempat tinggal yang menghadap ke sungai dan pantai, pelibatan teknologi, dan tidak melanggar aturan sempadan.

Akhir kata, selamat jika pembangunan Masjid Terapung atau Rumah Adat itu sudah "ketuk palu" dan tinggal menunggu diproyekkan. Semoga analisis dari konsultan luar kota itu bisa sebaik warga kota kita sendiri melihat realita yang ada. ***

_______
  • Penulis adalah alumni Jurusan Perencanaan Kota di Universitas Brawijaya Malang-Indonesia.
  • Pernah belajar di Department of Urban & Regional Planning, BUET.
Sumber opini: https://www.facebook.com/Planner08/posts/10208660573693549

Related

Opini 5330196236547103796

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

SPONSOR

join

FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO

Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item