Muncul Fenomena Tremor di Gunung Tambora, Ini Penjelasan Kepala Balai dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNT


Gunung Tambora.
METEROmini/Google

KABUPATEN DOMPU - Kepala Balai Taman Nasional Tambora (TNT) mengungkap penyebab kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sepanjang kawasan Gunung Tambora belum lama ini.

Dilansir dari lakeynews.com, Kepala TNT Murlan Dameria Pane mengatakan,  faktor lain terjadinya kebakaran di Gunung tambora bukan karna Api melainkan ada getaran yang lain yang menyebabkan kebakaran.

"Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api Tambora, ditemukan tremor (getaran, red) menerus yang diduga sebagai penyebab terjadinya kebakaran baru-baru ini," jelas Kepala TNT Kamis (7/11).

Kepala Balai Taman Nasional 
Tambora (TNT) Murlan Dameria Pane.METEROmini/Dok

Masih Kata dia, getaran ini menimbulkan Gas yang mengakibatkan suhu diatas Gunung Tambora meningkat. Tapi bukan dari penyebabnya titi Api.

"Jadi, bukan penyebab titik api, tapi meningkatkan suhu dan potensinya besar untuk penyebab kebakaran,” Katanya.

Menurutnya,  kejadian itu terjadi berlangsung selama dua hari dari tanggal 19 hingga 20 Oktober lalu,  dan hingga saat ini status saat ini sudah normal kembali.

“Jadi memang kalau status gunung api Tambora ini, statusnya aktif dengan level normal,” paparnya.

Ia menambahkan, Fenomena yang terjadi beberapa waktu itu sudah tidak ada lagi dan ia pastikan kejadian itu tidak menganggu aktifitas pendaki Gunung Tambora.

"Namun sampai saat ini fenomena ini telah hilang, dan dipastikan tidak mengganggu aktivitas seperti pendakian di Tambora," paparnya.

Dikatakan wulan,  Faktor lain terjadi fenomena itu karna di pengaruhi cuaca panas yang extrim dan kemarau pajang saat ini.

"Cuaca panas yang terjadi sejak Juni menyebabkan suhu udara kian panas. Sehingga, kawasan Tambora yang sebagian besarnya padang sabana dan ilalang yang sudah kering mudah terbakar," terangnya.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNT Deny Rahadi, S.Hut, M.Si.METEROmini/Dok

Sementara itu, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNT Deny Rahadi, S.Hut, M.Si mengungkapkan, akibat fenomena saat itu di sekitar Kawah Gunung Tambora terjadi peningkatan status.

“Temuan ini menunjukan gunung ini kembali berstatus aktif,” katanya.
Ia memaparkan, dari temuan itu berdasarkan laporan kepala Stasiun Pengamat Gunung Api di Desa Doropeti, Kecamatan Pekat, fenomena itu terjada beberapa tahun dulu dan hingga di tahun sekarang baru muncul lagi.

"Tremor ini teridentifikasi terjadi terakhir tahun 2011 dan baru terjadi lagi sekarang,” ungkapnya.

Deny menjelaskan, pihak TNT tidak berani memastikan munculnya tremor ini apakah dalam jangka waktu tertentu atau tidak. Namun, sesuai laporan yang diterima bahwa ini murni aktivitas vulkanologi yang tidak menentu waktunya.

“Fenomena ini termasuk salah satu alasan TNT menutup empat jalur pendakian sejak 21 Oktober lalu,” jelasnya.

Lanjutnya, atas beberapa pertimbangan dan melihat kondisi tremor yang mulai berangsur kondusif akibat intensitas hujan cukup tinggi di puncak Tambora, lantas diputuskan untuk membuka kembali jalur pendakian pada 4 November ini.

“Satu minggu terakhir, kondisinya sudah mulai kondusif, ditandai berkurangnya spot-spot api di wilayah puncak karena terjadi hujan,” jelasnya, Dilansir dari lakeynews.com. (RED)

Related

Pemerintahan 7326321500498194262

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

SPONSOR

join

FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO

Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item