Siang ini, Ruma Bumi Pertiga Dimakamkan

Ratusan tahun yang lalu, naskah-naskah di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditulis dengan aksara khusus, yang disebut aksara Bima. Setelah Islam masuk ke Bima, seluruh naskah-naskah kuno itu ditulis ulang dengan menggunakan huruf Arab-Melayu dan dikumpulkan dalam satu kitab bernama Bo Sangaji Kai. Salah satu yang mampu membacanya adalah DR. Hj. Siti Maryam, SH, MH yang merupakan putri dari Sultan Bima ke XIV, Sultan Muhammad Salahuddin.

Prosesi pengantaran jenazah Ruma Bumi Pertiga dari Pendopo Bupati Bima menuju Mesjid Sultan Muhammad Salahuddin, di Kelurahan Paruga, Kota Bima, Ahad, 19 Maret 2017. FACEBOOK/Alan Malingi


KOTA BIMA - Sabtu sore kemarin adalah hari terakhir bagi DR. Hj. Siti Maryam, SH, MH. Setelah dua hari sebelumnya di rawat di Rumah Sakit Dokter Agung, sekitar pukul 13.00 WITA, Hj. Siti Maryam atau dikenal dengan sebutan Ina Ka'u Mari dirujuk ke ICU RSUD Bima.

Setelah dilakukan perawatan yang cukup intensif, usia beliau yang kian renta dan memasuki umur 90 tahun, ternyata Allah telah memanggilnya. Menjelang pukul 16.00 WITA, Ina Ka'u Mari menutup matanya untuk selama-lamanya. Gelar di Kesultanan  Bima, Ina Ka'u Mari dikenal dengan Ruma Bumi Pertiga.

Persemayaman jenazah di Pendopo Bupati Bima. Siang ini, Jenazah Ina Ka'u mari akan dimakamkan di Pelataran Mesjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Ahad, 19 Maret 2017. Ribuan orang yang mengantara jenazah almarhumah hingga perisitirahatannya yang terakhir. Dan jenazah almarhumah langsung disholatkan di Mesjid Sultan Muhammad Salahuddin.

Ketua Yayasan Majelis Adat Bima itu, di usianya yang menjelan 90 tahun tidak memiliki keturunan. Putri keenam dari Sultan Muhammad Salahuddin ini meraih gelar doktor bidang filologi Fakultas Sastra Unpad pada usia 83 tahun.

Ruma Bumi Pertiga atau Ina Ka'u Mari yang memiliki nama lengkap
DR. Hj. Siti Maryam Binti Muhammad Salahuddin, SH, MH, membaca
Kitab Bo Sangaji Kai. FACEBOOK/Taman Firdaus
Bagi Maryam, menuntut ilmu tak ada batasnya. Meski usianya tak lagi muda, ia masih rajin menyebarkan ilmu tentang naskah-naskah kuno yang ia kuasai itu. Maryam tampak begitu bersemangat saat diminta membacakan naskah kuno Bo Sangaji Kai.

"Memang lelah, tapi kalau bukan saya siapa lagi. Karena anak muda sekarang tidak banyak yang tertarik dengan sejarah," ujar Maryam saat ditemui di kediamannya, Jl Gajah Mada 1, Bima, NTB beberapa waktu lalu, dikutip dari detikcom.

Maryam telah menterjemahkan naskah Bo Sangaji Kai ke dalam bahasa Indonesia. Karya-karyanya banyak tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Hanya saja, kemampuannya membaca aksara Bima masih belum banyak yang mewarisi.

Meski demikian, ia tetap giat menyebarkan ilmu filologi. Dari Wikipedia, filologi adalah ilmu yang mempelajari bahasa dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis, yang merupakan kombinasi dari kritik sastra, sejarah, dan linguistik.

Maryam masih cukup sering menghadiri seminar-seminar tentang filologi, sejarah hingga arkeologi. Perempuan yang dikenal gesit di masa mudanya ini masih kuat bolak-balik NTB-Jakarta untuk menghadiri undangan-undangan seminar dan dialog serta pameran filologi.

Maryam mengenyam pendidikan S1 dan S2-nya di bidang hukum Universitas Indonesia pada tahun 1953 hingga 1960. Ia sempat menjadi Staf Khusus Bidang Kehakiman pada tahun 1957-1964. Maryam juga pernah menjadi anggota DPR RI tahun 1966-1968, Asisten Administrasi Sekretaris Wilayah Daerah NTB tahun 1964-1968 dan juga sebagai dosen di Universitas Mataram. Maryam sangat concern dengan budaya dan kesenian Bima. Ia mengelola sanggar tari bernama Paju Monca di Bima dan Mataram hingga ajal menjemputnya. (RED | WWW.DETIK.COM)


Related

Historia 8577070106826882089

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

SPONSOR

join

FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO

Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item