FORMS NTB Gelar Diskusi Sejarah Bima

Suasana diskusi “Bima Dalam Perspektif Sejarah” oleh FORMS NTB. FOTO: Tacdir Syafrudin/FACEBOOK

SOLO - Minggu (5/3/2017), Forum Komunikasi Mahasiswa Pasca Sarjana (FORMS) NTB, menggelar kegiatan diskusi Sejarah Bima dengan tema “Bima Dalam Perspektif Sejarah”. Kegiatan tersebut merupakan agenda kerja FORMS NTB periode 2016-2017 yang dihadiri oleh seluruh mahasiswa pasca sarjana asal Bima dari berbagai kampus di Solo dan Yogyakarta.

Dalam diskusi yang juga dihadiri oleh mahasiswa Dompu, Sumbawa, dan Lombok tersebut, digelar di depan kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Hadir juga dalam acara tersebut, pakar sejarah Bima, Sholihin, yang juga menjadi nara sumber dalam acara diskusi.

Ia menjelaskan bahwa berbicara sejarah Bima harus benar-benar bebas dari kekuatan mistik dan mitos. Khusus terkait masa Hindu-Budha yang pernah berkembang di wilayah Bima, Hindu sekte Siwa menjadi warna pemujaan terkuat di wilayah Bima.

"Hindu sekte Siwa dengan berbagai hasil budaya yang mengakar hingga terus berkembang sebagai sebuah tradisi yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sebagian kelompok masyarakat Bima," ujar pria yang sedang menempuh pendidikan pasca sarjana di Universitas Sebelas Maret (UNS) tersebut.

Ia mencontohkan, berbagai warna pemujaan pada masa itu seperti menempatkan persembahan dan sesajen kepada kekuatan alam agar mendapatkan ilham dan kekuatan jiwa serta kepuasan batin.

"Ini menjadi corak dan warna tersendiri yang sangat sulit dilumpuhkan dalam sebuah pondasi tradisi yang berbasis local wisdom," ungkapnya.

Sholihin berpesan, seorang sejarahwan Bima harus benar-benar merumuskan dan menemukan alur dan fakta historis terkait perkembangan kerajaan Hindu-Budha di Bima. Dan itu merupakan tugas sekaligus kehormatan bagi para peneliti sejarah di tanah tapal kaki kuda yaitu Kerajaan Bima.

"Kajian historis saat ini dan belum banyak digunakan dalam penulisan sejarah Bima adalah pemikiran R. Colling Wood, sejarahwan Inggris yang menekankan bahwa dalam penulisan sejarah harus menggunakan kajian inside dan oustide supaya sejarah itu bernilai historis dan layak dikaji dalam sebuah geohistori yang tepat," tutur pria yang juga menjadi dosen di salah satu Universitas Negeri di Pulau Jawa tersebut.

Sementara itu, Ketua FORMS NTB, Tacdir Syafrudin, berharap bahwa dengan adanya diskusi semacam ini, paling tidak akan memberikan wawasan baru bagi mahasiswa dan masyarakat tentang sejarah Bima.

Selain itu, lanjutnya, ke depan, kegiatan diskusi semacam ini akan diintenskan sekali seminggu dengan tujuan untuk meningkatkan wawasan Kebimaan mahasiswa dan juga menjadi wadah untuk merekatkan persaudaraan antar sesama mahasiswa yang ada di perantauan.

"Ke depan acara diskusi tentang Kebimaan akan ditingkatkan lagi supaya kita tau betul bagaimana sejarah Bima sebenarnya," harap Tacdir. (RED)

Related

Pendidikan 7166382016764858727

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

SPONSOR

join

FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO

Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item