Persepsi Masyarakat Terhadap Pendidikan Tinggi

 

Baiq Yulian Ariani, mahasiswi Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini Ftk-Uin Mataram. METEROmini/Dok

Oleh: Baiq Yulian Ariani

OPINI - Pendidikan merupakansatuhal penting dalam mejalani segala lini kehidupan umat manusia. Karena segala sesuatu pada akhirnya akan di titik beratkan pada tingkat pendidikan yang telah dimilikinya. Misalanya; dalam hal mencari kerja,maka bagi setiap perusahaan atau lembaga pasti tolak ukurnya adalah tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seseorang, sehinggapeluanguntuk bisa mendapatkan kerja itu lebih besar.

Perguruan tinggi merupakan Lembaga Pendidikan yang mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan secara akademismaupunsecaraketrampilan. Pendidikan tinggi juga di artikan sebagai suatu wadah Pendidikan bagi generasi bangsa, sehingga Pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan mampu melahirkan anak-anak bangsa yang berkualitas untuk membawa bangsa Indonesia ini menjadi lebih baik.

Pendidikan formal pada saat ini sangat dibutuhkan bagi setiap orang, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua juga harus mendapat pendidikan yang layak sesuai dengan kualifikasi mereka masing-masing. Meski demikian, mengenai pendidikan kadang masih ada persepsi-persepsi atau asumsi masyarakat yang justru lebih mementingkan lahan kerja dibandingkan dunia pendidikan bagi anak-anak mereka. Oleh karena itu, persepsi-perspsi tersebut sepertinya perlu diluruskan demi mewujudkan generasi-generasi bangsa yang berkemajuan dan berpendidikan Tinggi.

Pada masa sekarang ini, lembaga-lembaga pendidikan terus berupaya menyiapkan sumber daya sebagai generasi penerus untuk mengisi peran-peran tertentu dalam kehidupan masyarakat. Karena melalui pendidikan telah dipercayai bahwa pendidikan adalah sarana dan wahana ampuh untuk membawa bangsa dan Negara menjadi lebih maju dan terpandang dalam pergaulan bangsa-bangsa dan dunia internasional. Menurut Marimba pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik untuk pengembangan jasmani dan rohani menuju terbentuknyakepribadian yang utama.

Persepsi masyarakat adalah penglihatan, anggapan, bagaimana seseeorang melihat sesuatu. Persepsi merupakan proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkunganya, hubungan ini dilakukan lewat indra pengliatan, pendengar, peraba dan pencium. Tentu setiap masyarakat berbeda-beda persepsinya dalam hal apapun, terutama dalam bidang pendidikan, persepsi masyarakat akan tergantung dari letak geografis, sosial, dan budayamereka.

Menurut undang–undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan tinggi nasional mengamanatkan bahwa perguruan tinggi harus bersifat mandiri, artinya mampu mengelolah lembaga pendidikannya serta bisa menajemen keuangan secara mandiri untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Pendidikan tinggi merupakan lanjutan dari Pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menjadi anggot amasyarakat yang memiliki kemampuan dan ketrampilan akademik. Pendidikan juga bias di definisikan sebagai wadahu ntuk menyiapkan manusia muda yang berkualitas, dan sebagai untuk menyiapkan tenag akerja dan warga negara yang baik. Selanjutnya satuan Pendidikan yang menyelenggarakan Pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk sebagai berikut: Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik, dan Akademi.

Jadi perguruan tinggi adalah kelanjutan Pendidikan menengah yang cukup beragam seperti yang di uraikan di ata suntuk menyiapkan generasi-generasi bangsa yang baik untuk membangun bangsa Indonesia ini menjadi lebih maju dan baik.

Tingkat pendidika ndalam suatu daerah sebenarnya ditentukan dari bentuk daerah atau desa tersebut. Di mana bentuk daerah mencakup tentang pola, organisasi dan tata letak pemukiman yang berbeda dari satu daerah ke daerah lain. Oleh karenanya bentuk Desa sangat berpengaruh atau menentukan tingkat perkembangan pendidikan. Sering pula suatu bentuk Desa atau Dusun berkaitan erat dengan karakteristik sosial dan budaya yang dominan pada daerah tersebut, sehingga tingkat pengetahuan dan tingkat teknologi yang dimiliki sering berperan dalam membentuk dan menentukan tata letak (ruang) suatu Desa.

Seperti halnya tingkat pendidikan yang ada di Desa dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat terhadap lingkungan, terutama pemerintah dengan memamfaatkan hasil rekayasa ilmiah untuk tujuan pendidikan terhadap masyarakat tertentu. Sebagian besar penghasilanmasyarakat Dusun atau Desa adalah dari hasil pertanian. Dari hasil pertanian tersebut harus dikembalikan lagi sebagian ke sawah untuk pembiayaan musim tanam selanjutnya dan sebagian lagi untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka, selain itu harga dari hasi lpertanian masyarakat Dusun atau Desa juga tidak selalu tetap.

Fenomena di atas, masih bisa di temukan di salah setiap kampung atau wilayah terpencil tepatnya di pedesaan, pedesaan secara geografis memiliki potensi alam pada sektor atau lahan pertanian, sehingga hampir secara menyeluruh masyarakat Dusun atau Desa menggantungkan mata pencahariannya pada lahan pertanian semata, meskipun ada juga yang menjadi TKI,guru honorer, pedagang bakulan, dan pengangguran.

Tingkat pendidikan masyarakat Dusun atau Desa pada umumnya masih rendah di mana mayoritas pendidikannya sampai tingkat sekolah menengah pertama sehingga pengetahuan pendidikan yang mereka ketahui juga terbatas, karena tingkat kesadaran masyarakat di komunitas Desa terhadap pendidikan formal masih rendah. Tentu hal ini dipengaruhi faktor-faktor internal dan faktor eksternal. Fenomena initerjadi di Pedasaan yang mayoritas masyarakat memiliki tingka tpendidikan yang sangat rendah, terlebih lagi yang melanjutkan ke Pendidikan Tinggi. Pendidikan terahir bagian anak-anak di pedesaan adalah mayoritas tingkat SLTA dan ada juga sampai jenjang SMP, sedangkan yang melanjutkan ke perguruan tinggi sangatlah minim. Setelah tamat dari jenjang SLTA mereka membantu orang tuanya kerja di sawah, ada juga yang menikah.

Setelah di Analisa di pedesaan tidak semua pendapatan mereka rendah, terdapat juga warga yang pendapatannya tinggi namun mereka enggan menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi, ini disebabkan oleh orientasi mereka pada dunia kerja, sehingga mereka berasumsi bahwa untuk apa menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang yang lebih tinggi jika pada ahirnya akan melanjutkan pekerjaan orang tuanya. D isinilah terlihat adanya kesenjangan antara ekonomi dengan tingkat pendidikan masyarakat setiap di Dusun atau Desa. ***

*) Penulis adalah mahasiswi Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini FTK-UIN Mataram


Related

Pendidikan 1077141902500114711

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

 


 


SPONSOR

join

FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO

Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item