Nasib Petahana Dalam Pilkada Kabupaten Bima

Delian Lubis, aktivis pro demokrasi di Bima. METEROmini/Dok
Oleh: Delian Lubis

OPINI - Sejak partai Golkar pemenang pemilu gagal mendistribusi kader pada jabatan ketua-ketua Komisi DPRD, itu isyarat kuat bahwa partai golkar tidak bisa lagi ditempatkan sebagai poros konsolidasi politik partai-partai lain dalam pilkada 2020. Kondisi ini berimbas pada kerumitan petahana melakukan konsolidasi politik.

Diperparah lagi ketika Gerindra melalui Humas menyatakan mencabut dukungan kepada petahana pasca DPD Gerindra memberikan surat tugas kepada petahana. Perlawanan DPC Gerindra kepada DPD adalah sebuah peristiwa politik ril yang lagi-lagi kian memperkecil akses petahana mengendarai Partai Gerindra. 

Bukan tidak mungkin sikap DPC Gerindra yang secara gamlang melawan DPD atas pencabutan dukungan pada petahana merupakan reaksi atas restu DPP Gerindra pada sikap politik DPC menarik dukungan pada petahana.

Demikian juga DPD Hanura  tegas tidak menghendaki IDP walau DPC memgusung tunggal IDP. Semua muara keputusan politik partai kuncinya ada pada DPP. Meletakan pengaruh DPP secara struktural untuk memberi keputusan politik sangat bisa keluru. Di tingkat DPP, Faksi internal juga demikian tajam. 

Selalu saja ada tangan lain yang bisa mengubah konstalasi dukungan termasuk mengecilkan manuver petahana. Mereka adalah pemain dibelakang layar yang punya akar emosional dgn penentu DPP di semua partai politik.

Maka jangan heran bila esok lusa skema politik pilkada bisa berubah total. Perubahan itu adalah efek dr arus lain yg sama sekali tidak tidak diperhitungkan. Seperti ketiadaan kalkulasi Golkar terpentalnya kader mengisi jabatan ketua-ketua komisi.

Perubahan konstalasi politik dukungan parpol pada petahana secara langsung berimpas pada perubahan konstalasi dukungan arus bawah. Dalam kenyataan, arus bawah yang dianggap memiliki kedaulatan hak pilih sedemikian cepat berubah haluan karena peran agitasi dan propaganda media mainstrem dan teknologi digital. 

Itu terjadi dalam banyak peristiwa politik termasuk terpentalnya H. Man dalam pilkada kota yang sebelumnya dianggap kekuatan super hero. Jadi, Pilkada sebagai gerbang mengubah haluan politik dan arah pembangunan ke depan adalah sebuah keniscayaan.

Posisi politik petahana sangat sulit melakukan konsolidasi yang terstruktur dan massif oleh karena masy kelas menengah terdidik maupun lapisan-lapisan arus bawah demikian berani menunjukan sikap pembangkangan dan perlawan. 

Sebuah kenyataan yang bersumber dari kegagalan kepemimpinan petahana. Dukungan terhadap petahana yang terlihat saat ini bisa dimengerti karena kapasitas Bupati memudahkan menggerakkan instrumen birokratis atas nama kunjungan kerja.

Tiba petahana beralih ke PLT maka situasinya akan serba lain termasuk kita akan menemukan ribuan loyalis palsu yang hengkang dari petahana. Sesuatu yang sangat menyakitkan bagi petahana di kemudian hari. (RED)

Related

Opini 7750203152158660798

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

 


SPONSOR

join

FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO

Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item