Dua Tragedi Kematian Tak Wajar di Melayu dan Marina Resort, "Ini Komentar Netizen"

A. Latif (70) ditemukan meninggal dunia dnegan keadaan gantung diri di kelurahan Melayu, Kecamatan Asakota, Kota Bima,  Selasa, 4 Desember 2018 sekitar pukul 08:00 WITA lalu. METROMINI/Dok
KOTA BIMA - Dua kejadian dalam keadaan yang tidak wajar terjadi di Kota Bima. Diberitakan sebelumnya, Rabu, 28 November 2018 lalu, seorang pekerja bernama Samsul (28) dalam keadaan tubuhnya yang terpanggang diduga korsleting listik meninggal dunia saat bekerja di pembangunan mega proyek yang ada di seberang Pantai Amahami yang dikenal dengan nama proyek Marina Resort.

Selanjutnya, kejadian meninggalnya A. Latif (70), Selasa, 4 Desember 2018 sekitar pukul 08:00 WITA lalu yang gantung diri di kelurahan Melayu, Kecmatan Asakota, Kota Bima. Dua kematian tak wajar tersebut, lepas dari penyelidikan pihak Kepolian Resort Bima Kota. Namun, dua tragedi itu menuai komentar yang diduga oleh Netizen di dunia maya, sebabnya mungkin bukan karena faktor kesengajaan atau kelalaian korban.

Pada kejadian pertama, kisah meninggalnya buruh di pembangunan proyek Marina Resort, tak ada keterangan dari pihak Polsek Rasanae Barat yang merupakan wilayah hukum Tempat Kejadian Perkara kasus tersebut. Tak lama setelah diperiksa dan dimandikan di Puskesmas Dara, jenazah Samsul langsung dibawa oleh ambulance ke kampung halamannya di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Seorang Facebookers, bernama Randy Pablo Escobar mengungkapkan, sebenarnya di kawasan pembangunan Hotel Marina II atau Marina Resort, tepat dibelakangnya adalah daerah yang anker, tepat di kaki Gunung Londa

"Di belakang hotel itukan Gunung Londa yang memang dikenal angker dari dulu. kan angker. Mungkin saja belum permisi dengan 'penghuni gunung' yang kabarnya sebagai rumah dari makhluk gaib di Kota Bima," terang Randy.

Menurut  Bima Putra, kondisi kematian ini mungkin saja terjadi saat pembangunan gedung bertingkat dan banyak karyawan yang bekerja, sehingga kelengkapan keamanannya sering dilupakan. 

Dan kata Ncuhi Naru, kejadian tersebut adalah peringatan dari Allah SWT. 

Dan kabar yang terendus atau informasi yang dihimpun Metromini. Pembangunan proyek Marina Resort adalah kolaborasi antara salah seroang pengusaha warga keturanan yang ada di Kelurahan Dara dengan nama usahantya berinisial SM. Dan SM dalam pembangunan proyek itu bekerja dengan mantan orang nomor satu di Kota Bima.

Almarhum Samsul (28), pekerja di Marina Resort yang meninggal dunia. METROMINI/Dok
Nada yang cukup mencengangkan saat akun Facebook bernama Mega Rdk menuliskan statusntya terkait proyek Hotel Marina II  di depan Pantai Amahami itu. Untuk diketahui, penamaan Marina Resort atau Hotel Marina II, karena di Kota Bima sudah ada Hotel Marina di kompleks Pasar Raya Bima . Dan diduga dua bangunan berlabel "Marina", masih dalam kepemilikan saham yang sama. 

Menurut Mega Rdk, dia yang mendengar kabar bahwa orang bernama Qurais (diduga mantan Wali Kota Bima periode 2010-2018, red) sebagai pemilik bangunan tempat meninggalnya seorang bapak tiga orang anak yang menjadi pekerja di proyek Marina Resort. Mega menuding jika kematian tersebut diduga seperti korban tumbal. 

Mega pun mengingatkan Qurais agar sadar dan takutlah dengan Rahasia Illahi. Ia meminta Qurais untuk tak menggunakan segala macam cara.

"Oh hotel marina ini teryata kepunyaan qurais. Yg kmarin jatuh korban, paling2 ini tumbalnya quraiss. Quraiss2 ente ngak sadar juga. Ngak takut rahasia Illahi. Jangan segala macam cara d halalkan quraiss. Ingat hidup akan mati. Jngan di sa'at engkau hidup sesuka km. sadar quraiss. ingat umurr," tulis pemilik nama asli Rifaid itu, Jum'at (7/12/2018) malam.

Diketahui, dalam beberapa tahun terakhir ini memiliki hubungan yang cukup menegangkan dengan mantan Wali Kota Bima itu. Saat ini, Qurais kembali terjun ke panggung politik dan mencoba keberuntungannya untuk menjadi politisi level nasional setelah dua periode menjabat sebagai Kepala Daerah.  Kendati, jabatan sebagai Wali Kota Bima telah berakhir, namun untuk komposisi DPD Partai Demokrat Kota Bima, posisi Ketua masih di tangannya.

Gantung Diri di Melayu

Lokasi ditemukannya A. Latif (70)  yang meninggal dunia akibat gantung diri di Lingkungan Pali, Kelurahan Melayu, Kecamatan Asakota, Kota Bima, Selasa, 4 Desember 2018 sekitar pukul 08:00 WITA. METROMINI/Dok
Selanjutnya, kejadian meninggalnya A. Latif (70), Selasa, 4 Desember 2018 sekitar pukul 08:00 WITA lalu yang gantung diri di kelurahan Melayu, Kecmatan Asakota, Kota Bima. Diberitakan sebelumnya. diduga korban mengalami depresi karena tinggal sebatang kara dan jarang mendapat perhatian dari anak-anaknya. 

"Korban yang mengalami depresi, menjadi motif yang mendorong korban melakukan tindakan gantung diri hingga meninggal dunia," ujar Kapolsek Asakota IPTU Muhammad Lutfi Hidayat sembari menegaskan dalam kasus ini pihak keluarga korban tidak ingin melakukan otopsi. 

Tanggapan yang menilai bukan karena bunuh diri terkait dengan sebab kematian A. Latif saat foto korban yang gantung diri disebarkan di sosial media, Facebook. 

Ndye Nathan mengatakan, sungguh mengherankan kematian bunuh diri ini. Sebab, kondisi kaki korban masih menyentuh tanah seperti saat awal ditemukan di bawah pohon bakau yang terlihat seuntai tali di leher korban yang sudah tak bernyawa itu. 

Ia menduga, di tengah orang yang bunuh diri biasanya mengeluarkan lidahnya, namun tak terlihat dalam kondisi kematian korban. Pemilik akun yang tinggal di BTN Sadia itu menduga kematian itu mungkin sebelumnya dengan cara dibekap, baru dibawa oleh pelaku dalam keadaan gantung diri. 

"Jika pun ingin gantung diri. Apalagi katanya tinggal sebatang kara. Kenapa juga TKPnya tidak di dalam rumah korban, Tapi, terjadi di luar rumahnya yang memang tak jauh dari huniannya saat ini," tulis Julasfi.

Julasfi menilai, kematian ini 'abu-abu' sekali. Di tengah korban sudah tua, jika ingin bunuh diri, bisa saja korban lakukan di dalam rumahnya. Apalagi, kehidupannya yang sebatang kara dan jauh dari perhatian anak-anaknya.  

"Kalau gantung diri dan keadaan hidup korban sebatang kara. Kan bisa korban gantung diri di dalam rumahnya saja. Tapi, korban melakukannya dui daerah terbuka. 'Abu-abu' kematuan ini. Kasihan korban sudah tua," lanjut Julasfi.

Baca juga: Kapolsek: Diduga Depresi, Lelaki Paruh Baya di Melayu Akhiri Hidupnya Gantung Diri di Pohon Bakau

Tanggapan kematian ini dikomentari pula oleh artis KDI, Anggun Merdekawati. Anggun menilai heran dengan keberadaan kaki korban yang menyentuh tanah, saat dikatakan meninggal dalam keadaan bunuh diri. 

"Ia ya kok bisa gantung diri kena tanah kakinya," tulis Anggun Merdekawati.

Senada dengan Anggun, akun bernama Fifa Salfah menduga kematian Kakek berusia 70 tahun itu bukan karena bunuh diri. Pendapat Fifa itu pun senada dengan yang dituliskan Halidah Zubaidi. 

Menurut Halidah, kondisi fisik orang yang bunuh diri, biasanya akan mengeluarkan lidahnya. Dam matanya tidak merem seperti pada kondisi fisik saat korban ditemukan awalnya oleh warga atau terlihat dalam foto yang beredar di sosial media. 

Ia menduga kalau korban itu dibunuh. Setelah dibunuh, baru digantung di pohon, agar dikira bunuh diri. 

"Setelah dibunuh baru digantung di pohon biar dikira bunuh diri. Secara logika orang yang bunuh diri pasti lidahnya keluar dan  matanya nggak merem kayak gitu," tulis Halidah Zubaidi.

Halidah  menambahkan, awal kejadian ini diketahui oleh warga, tak lama kemudian pihak aparat kepolisian dan juga mobil ambulance datang dan membawa korban ke RSUD Bima. Namun sayangnya, pihak keluarga korban tak ingin korban diotopsi. 

"Harusnya diotopsi agar mengetahui sebab kematiannya. Kasihan kan sudah tua. Kuat dugaannya dibunuh dan anaknya harus mencarikan keadilan untuk pak nelayan itu," tulis Agus, netizen lainnya di status yang mengupload foto korban.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Kapolsek Asakota IPTU Muhammad Lutfi Hidayat mengatakan, pihak keluarga korban menolak dilakukan otopsi. Akhirnya, Kapolsek mengungkapkan, kematian korban disebabkan karena depresi. (RED)

Related

Kabar Rakyat 8515360778539647489

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

SPONSOR

join

FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO

Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item